Bupati EMAS Menuju Istana Negara Menjadi Sorotan Media
Bergelimang
perhiasan. Itulah yang terlihat dari penampilan Bupati Mimika Eltinus
Omaleng saat bertemu Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya di kantor Setneg,
Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (29/6). Eltinus datang
untuk mendampingi warga Suku Amungme yang menuntut hak ganti rugi ulayat
pada PT Freeport Indonesia.
Perwakilan warga kebanyakan berpenampilan sederhana dengan mengenakan kemeja batik, celana bahan dan sepatu.
Lantas bagaimana dengan sang bupati Eltinus memakai seragam pegawai negeri
sipil berwarna cokelat biasa. Tapi, perhiasan yang menempelnya di antara
seragamnya bisa dikatakan menyilaukan mata.
Di tangan kanannya ada gelang berwarna
emas berukuran cukup besar. Belum lagi jari tengah dan jari manis
Eltinus melingkar cincin berwarnakan emas besar nan mengilat. Dua cincin
itu bermatakan batu akik merah tua dan hijau kehitaman.
Sementara itu di tangan kirinya, pria
bertubuh tambun itu memakai sebuah jam tangan berwarna emas. Di tangan
itu juga tersemat dua cincin emas bermata batu akik berwarna cokelat dan
hitam.
Itu saja? Tidak. Sang bupati juga mengenakan sebuah kalung berwarna emas. Frame kacamata yang dipakainya juga berwarna serupa.
Tak tahu berapa berat semua emas yang
dipakai Eltinus. Saat dikonfirmasi hal itu, Eltinus tidak menjawabnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kedatang
Eltinus ke kantor Setneg adalah ingin memperjuangkan nasib masyarakat
adat yang selama ini tidak mendapatkan hak ulayat mereka dari Freeport.
Menurutnya, Freeport sudah menghabiskan
banyak gunung di Mimika, untuk pertambangan. "Kami minta ganti rugi di
mana mereka sudah habiskan gunung emas yang mereka ambil. Ada empat
sampai lima gunung," kata Eltinus di kantor Lenis.
Menurutnya, masyarakat adat tidak pernah
menikmati satu pun ganti rugi dari Freeport sejak perusahaan Amerika itu
masuk Papua tahun 1967. Meski, Freeport mengklaim sudah memberikan 1
persen dari hasil pertambangan, itu dianggapnya tidak cukup dan tidak
sebanding.
Karenanya dia menuntut Freeport membayar USD 36 miliar atau setara Rp 481 triliun.
"Kami minta mereka tanggungjawab. Kami
sebutkan pembagian angkanya dari hasil kotor keseluruhan Freeport
dialokasikan untuk Papua terutama di bidang pendidikan dan kesehatan,"
tandas Eltinus.

No comments
Post a Comment