Alasan Mengapa Perlu Revolusi Mental Pemerintahan Jokowi-JK
Sumber daya manusia berkualitas yang dibarengi dengan etos kerja mumpuni adalah kunci kemajuan bangsa.
Sudah tahukah Anda bahwa Indeks Pembangunan Manusia Indonesia ada di
urutan 111 dari 182 negara di dunia (UNDP, 2013)? Sadarkah Anda kalau
kemampuan matematika, membaca, dan sains siswa-siswi Indonesia ada di
urutan 65 dari 65 negara menurut PISA—Programme for International
Student Assessment (2012)? Apa opini Anda terhadap pernyataan Menteri
Perindustrian MS Hidayat (2014) bahwa produktivitas tenaga kerja
Indonesia masih relatif rendah dan kalah dibandingkan tiga negara
kompetitor utama di ASEAN?
Imbas dari data dan statistik tersebut menimbulkan pertanyaan
lanjutan, “Masa depan macam apakah yang akan dijalani bangsa Indonesia?”
Berikan Akses Pendidikan dan Kesehatan Berkualitas
Faisal Basri menyatakan bahwa demi Indonesia yang berdaulat, mandiri
secara ekonomi, dan berkarakter perlu ada akses terhadap pendidikan dan
kesehatan yang berkualitas (baca artikel: “Menelisik Program Ekonomi Era
Jokowi-JK”). Pendidikan dan kesehatan yang baik memiliki korelasi
positif dengan naiknya tingkat pendapatan individu. Sistem pendidikan
dan kesehatan yang baik dapat memberikan kontribusi yang sangat besar
bagi kemajuan suatu bangsa. Dengan pendidikan dasar dan kesehatan yang
baik, bangsa mana pun mampu meraih kedigdayaan dalam banyak bidang,
mulai dari ekonomi hingga olahraga.
Sebagai contoh, mungkin sebagian di antara kita ada yang beranggapan
bahwa menjadi pemain sepakbola tidak memerlukan kepandaian atau sekolah
tinggi. Cukup dengan fisik yang kuat dan bisa berlari dengan cepat.
Pernyataan tersebut benar jika tujuannya hanya bermain sepakbola di
level kampung, bukan level dunia. Berdasarkan hasil riset Karolinska
Institute di Stockholm (2012), rata-rata pemain sepakbola yang bermain
di klub-klub raksasa di liga-liga yang sangat kompetitif adalah
sekumpulan manusia yang sangat cerdas. Mereka diketahui memiliki
performa kognitif yang sangat tinggi, daya ingat yang sangat baik,
kecepatan berpikir, dan kreativitas di atas rata-rata dunia.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa sumber daya manusia suatu
negara jauh lebih berharga dari sumber daya alam yang dimiliki. Faisal
beropini bahwa melalui program-program Jokowi-JK, termasuk program
Revolusi Mental, akan berkontribusi positif terhadap pencetakan sumber
daya manusia berkualitas dan kemajuan industri di Tanah Air, khususnya
industri berbasis kreativitas. Melalui daya imaji yang kreatif, bangsa
Indonesia mampu menciptakan produk-produk inovatif yang dapat
mengalahkan segala macam produk asing yang masuk ke Indonesia.
Sumber daya manusia berkualitas tersebut tentu saja harus dibarengi
dengan etos kerja mumpuni untuk menjamin kemajuan bangsa. Saat ini,
sayangnya pemerintah masih kurang dalam memberi dukungan. Hal tersebut
terlihat dari bobroknya sektor birokrasi seperti bea cukai yang kerap
menyulitkan akses produk-produk yang berkontribusi pada peningkatan
kualitas SDM.
Faisal Basri melihat bahwa pemerintahan Jokowi-JK memiliki niat
serius untuk secara bertahap menghilangkan hambatan-hambatan kemajuan
industri Indonesia. Cara menghilangkan hambatan tersebut antara lain
dengan revolusi mental dan peningkatan daya saing. Apa sebenarnya
revolusi mental? Arif Budimanta, anggota Tim Pemenangan Jokowi
Widodo-Jusuf Kalla, memberikan penjelasan yang lebih mendalam mengenai
revolusi mental dan peningkatan daya saing.
Revolusi Mental dan Daya Saing
Agar berbagai program pemerintahan Jokowi-JK dapat berjalan optimal,
perlu adanya revolusi mental dan daya saing. Revolusi mental dan daya
saing adalah arah kebijakan Jokowi-JK. Apa maksud frasa revolusi mental
dan daya saing? Seperti sudah kita ketahui bersama dari berbagai
indikator internasional, kualitas sumber daya manusia Indonesia, aspek
mentalitas, dan budaya kerja termasuk dalam golongan papan bawah dunia.
Hal-hal tersebut perlu direvolusi ke arah yang jauh lebih baik
melalui revolusi mental dan daya saing. Memang sudah bermunculan
putra-putri bangsa yang mampu mengangkat nama bangsa Indonesia dan
mengharumkan bumi pertiwi, namun jumlahnya masih sangat sedikit. Saat
melihat lebih detail ke aspek mentalitas atau budaya kerja, SDM
berkualitas lebih menonjol di dunia swasta dibandingkan pemerintah.
Di dunia swasta pada umumnya, budaya kerja yang baik sudah tercipta.
Jadi, revolusi mental akan difokuskan pada birokrasi pemerintahan yang
mampu menunjang daya saing nasional. Pengejawantahan revolusi mental
tersebut terlihat dalam tujuh budaya birokrasi yang baik, antara lain
melayani bukan ingin dilayani, mempermudah bukan mempersulit,
mempercepat bukan memperlambat, saling melengkapi bukan saling
meniadakan, memperbaiki bukan mencari-cari kesalahan, memberikan kinerja
yang terbaik bukan ingin diberi, dan tepat waktu bukan jam karet.
Revolusi mental yang berjalan dengan baik dalam birokrasi
pemerintahan akan meningkatkan daya saing Indonesia. Patut dicatat, daya
saing ini tidak hanya dalam kualitas SDM Indonesia dibandingkan dengan
bangsa lain, tetapi juga dalam berbagai bidang lainnya, semisal
efisiensi dunia perdagangan. Saat ini biaya logistik di Indonesia
mencapai 27% dari PDB (Produk Domestik Bruto). Biaya logistik tersebut
tersebar di banyak sektor, antara lain transportasi dan perizinan.
Biaya logistik yang tinggi ini melemahkan daya saing Indonesia.
Sehingga harus diturunkan secara bertahap seiring dengan perbaikan
koordinasi di antara instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah.
Bersama-sama para stakeholder, antara lain pelaku dunia usaha,
masyarakat, dan pihak terkait lainnya, pemerintahan Jokowi-JK berencana
menurunkan biaya tersebut secara bertahap hingga 5% per tahun. Jika hal
ini berjalan lancar, maka pada tahun ketiga daya saing Indonesia sudah
mampu mengimbangi Malaysia pada kisaran 13%.
Kelak, pemerintahan Jokowi-JK juga akan meningkatkan kualitas dan
daya saing SDM Indonesia melalui pengembangan Techno Park yang
menjalankan tiga fungsi, yakni sebagai sarana pendidikan, sebagai balai
latihan kerja, dan tempat untuk mengembangkan kewirausahaan. Techno Park
juga memuat tiga unsur yang saling bersinergi antara swasta,
pemerintah, dan masyarakat. Nantinya setiap kota akan dibangun, sehingga
setiap kota punya Techno Park yang dikembangkan sesuai keunggulan dan
potensi masing-masing. Misalnya Sumatera Utara mengembangkan di bidang
perkebunan karet dan kelapa sawit. Kemudian, Jawa Barat dan Jawa Tengah
mengembangkan di bidang tanaman pangan dan teknologi maju. Bali dan Nusa
Tenggara Barat (NTB) di bidang peternakan sapi. Di Indonesia bagian
timur bisa dikembangkan bidang kemaritiman. Jadi, setiap daerah
berkembang secara mandiri sesuai potensi ekonominya.
Diharapkan pengembangan Techno Park ini menjadi salah satu faktor
pendukung peningkatan kualitas SDM Indonesia dalam menyongsong era
globalisasi, termasuk di dalamnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada
akhir tahun 2015.

No comments
Post a Comment